Selamat datang di ruang ventilasi

Kumpulan tulisan ringan tanpa tendensi. Tidak untuk dibaca dengan kening berkerut, apalagi sampai lapor polisi....

Minggu, 07 Februari 2010

KASIH ORTU SEPANJANG JALAN, KASIH ANAK SEPANJANG…FUSSILI?


(Untuk semua yg merasa punya orangtua, terutama yg masih bergantung pd orangtua.)


Tidak ada yg sempurna di dunia ini. Seringkali keinginan tidak sejalan dg kemampuan. Mimpi tidak dapat jadi kenyataan. Mengidamkan keluarga harmonis, penuh kasih sayang, sejahtera, sentosa pun tidak mudah terlaksana.


Tiap anak pasti mengidamkan ortu yg ideal menurutnya. Batasan ideal ini juga bisa bejibun variasiny. Ada yg cukup sederhana dan masuk akal. Ingin ortu selalu ada jika ia ditimpa masalah, always there to listen, their hands always catch them whenever they fall. Selalu hadir pd saat-saat istimewa. Dan...mampu membiayai mereka hingga siap utk mandiri.


Anak lain merasa ortu ideal adalah yg selalu mengakomodasi kemauan mereka. Never say NO, and always support their children's decisions, no matter it's right or wrong.
Yg lain maunya ortu gak usah banyak campur urusan anak, yg penting duit lancar. Duit sekolah, duit baju, duit ke cafe, duit dugem dan entertainment lain, duit liburan ke LN, duit buat tinggal di condo yg fully furnished (and serviced jg), duit buat beli mobil plus accessories dan bensin...

Lingkungan pergaulan, tayangan film dan TV series diakui atau tidak, sangat mempengaruhi isi kepala dan hati anak-anak. Mayoritas tayangan impor dari USA membius penonton dan menjadi referensi gaya hidup. Hal ini sudah berlangsung puluhan tahun, sejak rakyat sudah dapat suguhan film dan TV asing. Gaya hidup a la USA bukan hanya menggiurkan kita, tapi seluruh dunia lho. Kapitalisme Amerika, diakui maupun tidak, berhasil menaklukkan peradaban dunia. Fastfood, soft drinks dan jeans adalah contoh paling bagus keberhasilan penjajahan Amerika. Sekarang, teknologi informasi dan komunikasi pun dikuasai , sampai aku pun jadi korban. Blackberry, iPhone, Microsoft, Macintosh.... Lha habis gimana lagi, wong memang teknologi mereka unggul sih!

Pendek kata, masyarakat maju adalah masyarakat modern, dan modern identik dengan Amerika.

Makanya orang sekarang kalau mau dibilang gaul ya harus modern. Kalau mau dibilang modern ya harus berkiblat pada gaya hidup Amerika, secara contoh yang paling banyak beredar ya itu.

Di film-film Hollywood, para teenagers ke kampus atau ke sekolah banyak yang pake mobil pribadi. Sinetron Indonesia ikutan. Di film-film Hollywood, remaja sudah sexually active sejak 14 - 15 tahun, bahkan lebih dini. Kalau telat malah malu. Sinetron ikutan. Kalau sejak balita anak-anak demen banget nongkrong di depan TV atau DVD player (lantaran kedua ortu bekerja dan baby sitternya hobby nonton tipi), ya itulah yang mereka lihat dan yakini sebagai gaya hidup yang sudah seharusnya. Kalau sebagian besar waktu kemudian dihabiskan di dalam rumah, dan hanya 1/3 di sekolah, paling banter ke mall di akhir minggu atau maen ke rumah Oma di kompleks sebelah, ya....jadilah apa yang dilihat adalah yang dianut.

Kalau semua teman pakai mobil pribadi ke kampus, dan dia satu-satunya yg pakai motor pastilah ada rasa kecil hati. Di film gak ada kok yg pakai motor. Ya kan? Kalo liburan semester teman-teman dihabiskan di Sidney atau sejelek-jeleknya Singapore, tentu si anak sebel kalo cuma harus nengok tanah keluarga di Toraja atau Jogja. Di sinetron-sinetron juga gitu sih. Kalo teman-teman lunch di Sushi Tei, Duck King, Sizzler, ato paling murah di Starbucks, boro-boro warung kampus, McD aja kerasa cemen banget.
Ya ampiun mamaaaa, mana ada anak sekarang makan di warung kampus?! Malu dong Ma!


Kadangkala ortu jg memupuk sikap gini sih. Anak-anak teman semua pegang Blackberry, mosok anakku "cuma" Nokia sih? Malu dong. Kalu anak teman-teman minimal pake Tag Hauer, mosok anakku pake Seiko? Kalo anak teman-teman liburan ke Hongkong mosok anakku cuma ke Bromo? Ndesit ah!

Punya uang berlebih memang menyenangkan dan baik. Karena dg itu lebih banyak yg dapat dilakukan. Tp kalau itu yg digunakan utk membesarkan anak dan membiarkan mereka tumbuh dalam kubangan kemewahan.... ??
Apakah para ortu ini demikian yakin uang mereka abadi? Atau rekening bank mereka akan terus
topped up meski tidak kerja lagi, kayak periuk ajaib Dewi Sri gitu? Atau, apakah mereka yakin anak-anak akan mampu sekaya ortunya kelak? Kalau gak mampu, akankah ortunya hidup selamanya utk provide finansial anak-anak?


Anak, HARUS dipersiapkn utk terbang sendiri suatu hari, dan mapan di sarang mereka sendiri. Tapi mereka perlu sayap yg kuat, bulu yg sehat dan mata yg awas. Mereka perlu tahu, sayap dan bulu-bulu itu perlu waktu utk tumbuh. Mata tak akan berkembang baik jika hanya melihat sebatas lingkungan di lubang pohon mereka. Ortu harus berani menunjukkan kepada anak-anak betapa luas dunia dan betapa beragamnya kehidupan. Ortu harus sanggup membuat mereka faham, sebanyak apa pun uang mereka, semua didapat dg jerih payah, bukan dengan ongkang-ongkang. Dan uang akan berkurang terus jumlahnya, kecuali kita tidak makan, tidak sekolah, tidak perlu beli keperluan mandi, tidak pergi-pergi, tidak bayar listrik, tidak langganan tipi, apalagi internet, tidak....

Ortu, harus mampu membuka mata anak-anak, bahwa tidak semua orang mampu mengenakan Tshirt Polo, sepatu Reebok atau arloji Swiss Army. Karena yang penting badan terbungkus pakaian pantas, kaki tidak kepanasan atau nginjek kotoran ayam ketika berjalan, dan ada penunjuk waktu yang mencegah mereka telat ke sekolah.


Dan anak-anak....!
Ortu bukanlah sapi perah yg hanya pasrah dipencet-pencet demi seember susu tiap hari, tanpa pernah meminumnya sendiri. Jika anak2 dapat sebesar sekarang, bukan karena ortu hanya menjentikkan tangan atau ngepret tongkat sihir. Ortu berjuang setiap detik sejak kalian dilahirkan (disadari atau tidak). Cari makan, cari uang sekolah, cari uang untuk bersenang-senang, mempersiapkan tabungan kalian, dan masih sejuta dua belas lagi tugas.
Sama sekali tidak mudah menjadi ortu.

Siapa yg ganti popok ketika kalian pipis ato pup dulu? Siapa yg ajari kalian berdiri, berjalan ato naik sepeda? Beberapa anak mungkin akan menjawab :"si Mbok!" Atau "mbak Tum!" Okelah. Tapi siapa yg bayar gaji si Mbok dan Mbak Tum? Terus, siapa yang sampai pulang larut malam kecapean hanya untuk dapat gaji bulanan bekal menghidupi seluruh anggota keluarga? Siapa yg meski lelah tapi harus terjaga sepanjang malam mengganti kompres di jidat kalian ketika demam?


Ortu memang tak pernah sempurna. Jika kalian marah karena ayah tidak mau membelikan Honda Tiger spt punya si Freddy, mungkin karena budget ayah tak cukup. Atau ibu khawatir kamu ngebut. Jika kalian marah karena ayah tak mau membelikan tiket konser Jason Mraz, itu mungkin karena ayah tak mau asmamu kumat karena berdesak-desakan di kelas festival. Jika kalian marah karena ayah tak mau membelikan Toyota Rush, itu mungkin karena ayah memerlukan uangnya untuk membeli tanah buat rumahmu kelak.


Berhentilah marah pd ortu. Mungkin mereka tak sehangat Dr. Huxtable. Mungkin tak sekaya Donald Trump. Tapi, Dr. Huxtable hanya cerita fiksi. Dan apakah kalian yakin anak2 Trump berbahagia? Tahukah kalian andai mereka ternyata lebih tidak bahagia daripada kalian? Ketika mereka sakit, yakinkah kalian ortu mereka berjaga sepanjang malam di sisi tempat tidur? membacakan doa, membacakan dongeng, menyanyikan lullaby?

Ketika kalian sakit, mendapat masalah, musibah, tahukah kalian bahwa ada orang yg lebih tersakiti drpd kalian? Hati orangtua memang tak berbicara. Tapi DNA mereka yg menduduki setiap keping sel di tubuhmu, dan kasihsayang mereka yg mengalir dlm tiap mililiter darahmu, sanggup merasakan nyeri yg kalian rasa. Lebih dalam, malah.

Sabtu, 30 Januari 2010

Punggung turun ke bawah...

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Ungkapan ini bisa diterapkan di mana saja, ternyata. Sebagai contoh soto. Di Indonesia boleh dibilang hampir semua daerah punya sotonya sendiri2. Nama boleh sama. Tapi sotonya orang Betawi beda total dengan sotonya orang Kudus. Apalagi dengan soto Padang. Soto ambengannya Pak Sadi beda dg soto ambengan favoritku yg pake mobil dan cuma ada pagi hari di emperan (dulu) Aldiron Plaza Blok M. Bahkan soto Pak Sadi yg Surabaya juga gak persis sama dengan Pak Sadi yg Walter Monginsidi lho. Dari pengucapannya pun, soto berbeda-beda juga. Di Makassar disebut coto. Di sebagian pantura ada yg kasih nama tauto. (Tapi tentu sotoy tdk termasuk genus soto).

Urusan bahasa ternyata juga lain lubuk lain ikannya.

Seperti pernah kutulis tempo hari, "mata" di Jawa dipakai utk hewan. Padahal bahasa Indonesia "mata" dipakai untuk semua makhluk, mulai ikan, orang,maling (maling itu orang bukan sih?), pisau, angin, sampai dewa. Eh, hati pun punya mata juga. Ketinggalan.

Itu baru sesama Indonesia.

Dengan negeri tetangga lebih seru lagi. Kadang2 saking sama2 gak mudheng sampai berantem.

Dulu, waktu di Malaysia, aku pernah saling geleng kepala gak faham dg seorang fisioterapis. Karena kena low back pain aku pergi ke dia, yg orang Melayu setengah Gujarat. Aku bilang padanya utk "do something pd saya punya punggung". Dia kaget sedetik, tapi setelah itu cekikikan sendiri. Ini perempuan apa pulak terkikik kayak hyenna. Aku bilang lagi punggungku sakit, sambil menunjuk area di atas panggul. Dia malah ketawa. "Dokter, itu bukan punggung la. Itu belakang la".
Yeee....., nenek2 juga tahu punggung di belakang. Mana ada punggung tukaran tempat ama perut?! Sepuluh menit kami eyel2an dan baru mencapai kesepakatan setelah pakai bahasa Inggris. Back ache! Nah. Akur deh.

Rupanya mereka terjemahkan back sebagai "belakang" (hehe..bener jg sih). Lha terus punggung apaan? Ternyata di sono punggung itu berarti pantat. Lha pantat apa? Pantat di sana artinya (maaf ya): genitalia perempuan (itu lho... the M word). Walah-walah, kok jauh bener ya? Jadi, di Malaysia, punggung turun ke bawah dan pantat pindah ke depan. Gubrakk!!!

Ini baru satu. Masih buanyak lagi kata yang bunyinya sama tapi punya arti melenceng bahkan beda sama sekali. Untuk yg tidak berkepentingan memang sekadar lucu2an saja, tapi buat yang akan melancong ke sana (apalagi yg bakal tinggal cukup lama) mungkin ada baiknya tahu. Jangan sampai kita diketawain ato bahkan diprenguti hanya karena salah paham.

Di Indonesia, "gampang" adalah sinonim dari "mudah". Untuk percakapan nonformal rasanya kita lebih sering mengucapkan "gampang" daripada "mudah" kan? Nah, di Malaysia jangan sebaiknya selalu gunakan "mudah" saja deh. Sebab kata "gampang" mengandung konotasi buruk. Kata ini dikaitkan dengan "sesuatu yang haram dan tidak seharusnya ada", misalnya "anak gampang" yang berarti anak haram. Kata "kebutuhan" juga sebaiknya tidak digunakan karena dikaitkan dengan sexual needs.
Ada lagi kata-kata yang terasa lucu karena artinya beda dengan bahasa kita. "Sulit", di Indonesia adalah sinonim dari susah atau sukar. Di sana, sulit artinya confidential alias urusan rahasia. Lalu ada kata "pantas" yang di sana artinya "cepat". Lho? Kalau lambat atau lamban, digunakan kata "lembab" yang di sini berarti humid. Hahaaa, memang lain banget kan pakainya... Lucu kan?

Ada lagi kata yang artinya melenceng juga, yaitu "lewat". Kalau bisa hindari pemakaian kata ini, karena di sana ini bukan sinonim dari "lalu", melainkan berarti "sodomi". Gile benerrr...darimana kok bisa begini yak?? Kalau ini sih sama sekali tidak terasa lucu. Karena mereka mengucapkan kata ini untuk tujuan mengejek para homoseksual. Gak lucu...


Tahu kata misai? Artinya kumis. Mungkin kita hanya bisa menemukannya dalam buku-buku pelajaran jadul atau novel-novel melayu jaman Pujangga Dua Belas. Tahu arnab? Nhaa..ini aku betul-betul tidak pernah mendengar sebelumnya. Artinya kelinci. Heheee. Tembikai pernah dengar? semangka! Hohoooo....

Tapi ada juga kata yang di Indonesia berkonotasi miring, sedangkan di sana dapat digunakan sepuas hati. Misalnya "seronok". Di sana artinya "fun", jadi ente bisa sering-sering pakai. Seronoknye.....!

Sebetulnya masih banyak kata-kata yang terasa lucu. Yang pasti, di sana "bersalin" tetap "bersalin", bukan "korban lelaki". Gosip tuh.....

Sabtu, 23 Januari 2010

Endorphine


Endorpine is endogenous morphine. Our body produces its own morphine, wich effects are similar to morphine. But, unlike exogenous morphine, it won't give a usual histamine-related effects (a.k.a allergic reaction), since it's produced by ourselves. Other difference is, it won't cause addiction. Exogenous morphine and other look-alike drugs (named opioids) will cause toleration and addiction. Toleration means your body will tolerate the recent dose you use. Means, to get the same clinical effect as previous, you need to increase the dose for the next usage. Again and again. This is what we know as addiction. The truth is, addiction has two aspects, clinical/ physiological (a.k.a. toleration) and psychological aspect. Opioid abusers experient what we know as psychological dependency. And this is more difficult to manage. Eventhough the body is already "cleaned" or detoxicated, many times an ex abuser will fall again because of CRAVING. This is clearly a common psychological problem in an abuser.

What's the purpose of endorphine?
Like morphine, this substance gives us the effect of sedation, mild analgesia, and a "nice feeling" which makes us relaxed and happier. It's not euphoria, but a naturally normal happy feeling.

When you're tired, the entire body will give signals to each other part. This signal is caught and transferred by the nervous system. Then, endorphine will be released and attach to their sites (the opiate receptors) in the central nervous system, giving those effects above. We will then, feel sleepy and probably take a nap. If we sleep effectively, even just for 5-10 minutes, our body will feel much better. It also happens when we're sick or got pain.

How to produce endorphine?
We can't controle it. Endorphine is produced automatically when our body senses the need of this natural chemical stuff. That's why endorphine doesn't cause addiction. Our body is an amazing system with complicated-sophisticated mechanism that can controle everything by itself, as long as the "everything" is within normal range (this is what is called "homeostasis"). We cannot lie, cannot bully our body to do something we don't really need. But, like everything in this world, there's nothing perfect. There are thresholds. If, for example, the pain exceeds the threshold which our body can tolerate, endorphine will not counter it. We need something else (e.g. pain relief drugs).

There are things that can also trigger the production and release of endorphine. Almost every physical activity (sport, for example), caressing hair, listening to the music, and .... laugh a lot! These are just examples of things that can stimulate the conduction of impulses throughout the nervous system.

So, if you feel bad, your day went wrong, everything's messed up, don't go to the hell. DO NOT take exogenous morphine or its derivatives or look-alike drugs (heroin, cannabis, etc) or sleeping pills. You just need to do something that can release your own endorphine. And remember this : LAUGH a lot! It helps, trust me! At least for several hours....

But, be carefull. If you feel you laugh TOO MUCH, sometimes without any appropriate reason........ I think, that's the time you need a help. Go seek a shrink!

Kamis, 21 Januari 2010

S3 oh S3

Duluuuu sekali, aku pikir program S3 itu sesuatu yang di awang-awang, tak terjangkau. Setelah melihat beberapa teman berhasil memperoleh gelar Doktor atau PhD, kupikir ini tidak terlampau sulit. Tapi......apa iya gak susah?

Satu semester pertama sih oke oke aja, memang. Hanya diisi berbagai kuliah dari yang paling susah sampai yang paling tidak masuk akal (filsafat, bok! cuma orang-orang dengan struktur otak berbeda aja yang faham ilmu filsafat...!), ujian-ujian dan diskusi massal. Kebayang gak, diskusi dengan satu moderator merangkap penyaji utama merangkap narasumber (ya sang profesor si empunya session) dengan peserta sebanyak kira-kira 100 orang? Nah, bisa ditebak, yang jadi penyanggah alias komentator paling cuma satu, dua, tiga,...nggak sampai 7 orang deh. Yang lain ngapain? Yang sok perhatian biasanya cuma manggut-manggut munafik setiap kali ada yang mengemukakan pendapat (meskipun pendapatnya bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya, yang dia manggut-manggut juga). Yang realistik dan kreatif biasanya menciptakan aktivitas sendiri: nggambar kartun, main catur jawa, atau yang paling banyak adalah SMSan (gue termasuk kelompok ini, kreatif gitu lho. Hwehehee). Tapi ada juga yang kurang ajar (lebih dari seorang lho), tidur!!! Gak sopan....
Selain kuliah-kuliah, yang penting maupun yang ajaib, kami juga menjalani beberapa kali ujian tulis. Perlu diingatkan sebelumnya, peserta program S3 ini hampir semuanya emak-emak, bapak-bapak, bahkan eyang-eyang. Jadi tolong dimaklumi kalau kemampuan kami menjawab soal ujian berbeda dengan peserta program S2 yang rata-rata umur 30an (kuliahnya sebagian memang digabung). Kalau prosesor komputer, mereka pake intel core II duo, kami ini celeron aja...
Tapi, percaya atau tidak, diriku termasuk di antara sedikit (kurang dari sepertiga) peserta yang tidak pernah kena ujian remedial, lho. Alhamdulillah....karena ini jelas faktor luck dan belas kasihan Tuhan, karena kalau lihat kualitas, otak ane udah lebih banyak kapurnya daripada jaringan sehatnya (secara udah over 40 gitu..). Maka, semester pertama pun berlalu dengan selamat.

Bagaimana selanjutnya? Selanjutnya terserah kami. Beneran nih. Selanjutnya memang kegiatan mandiri dalam rangka penyusunan proposal tesis, ketemu pembimbing, riset dst dst. Di sinilah baru kulihat program S3 yang sebenarnya. Semua jalan sendiri-sendiri, tanpa ada yang menemani. Dan tahu nggak? Sekarang aku sadar, program S3 sebaiknya diambil tidak di institusi sendiri. Kenapa? Karena di sini engkau akan berjumpa setiap hari dengan sejawat-sejawatmua, yang berpikir bahwa menjalani program pendidikan itu sama dengan "leyeh-leyeh nggak kerja tapi dapat gaji". (Padahal uang sekolah setinggi langit ditanggung sendiri).Tidak ada seorang pun yang rela melihat muka kita tanpa menuntut kita melakukan pekerjaan rutin. Padahal, ikut program S3 ini juga tugas dari Dekan lho, bukan gaya-gayan doang. Teman-teman peserta S3 dari Trisakti diperlakukan jauh lebih baik oleh institusinya. Mereka dibebaskan dari aktivitas rutin seperti mengajar dan pelayanan, selama berkonsentrasi di program ini. Makanya, kalau mau jadi Doktor mendingan di luar negeri aja sekalian, supaya muka kita bener-bener hilang dari kantor departemen.

Terlepas dari ketidakrelaan sejawat melihat kita "leyeh-leyeh nggak kerja tapi dapat gaji", proses pembuatan proposal tesis bukanlah barang mudah. (Ccalon) riset doktoral harus memenuhi syarat a.l. novel (baru), menarik dan tentu saja feasible untuk dilakukan. Nah ini dia.....

Belum lama berselang, seorang sejawat menyelesaikan S3 dengan predikat cum laude dengan kecepatan turbo, setelah melakukan riset yang (maaf yaaa) sama sekali tidak novel (secara sudah ratusan kali dilakukan orang di luar negeri). Dan metode risetnya pun (aduh, maaf lagiiii) sederhanaaaaa banget! Sementara diriku, baru bikin praproposal saja sudah dikritik tidak novel lah, lebih pantas untuk S2 lah, tidak menarik lah...... Padahal.... Ini bukan sirik lho. Tapi iya sih, sirik juga sih. Habis, nyata sekali kan ketidakadilan dan standar gandanya?!

Proposalku ganti. Kali ini para calon pembimbing manggut-manggut tapi dengan muka kosong dan alis berkerut. Bisa gak sih dilakukan di Indonesia? Nah lo...

Sodara-sodara, dengan ini saya umumkan bahwa negara tercinta kita yang umurnya lebih setengah abad ini, dalam urusan penelitian ilmiah ilmu non-sosial, ternyata tertinggal nyaris setengah abad dibandingkan negara lain! tidak usah bicara Jepang atau Amerika, dengan Singapura bahkan Malaysia aja kita jauuuuuuuuuuhhhhhh tertinggal. Jadi, maka dari itu, sodara-sodara tidak usah gembar-gembor akan memacu percepatan penelitian ilmiah di kalangan akademisi non-sosial, juga tidak usah menghujat sistem pendidikan yang tidak mampu menghasilkan lulusan siap pakai dan siap saing dengan orang luar. Yang salah bukan cuma sistem pendidikan, tapi keseluruhan sistem di negara ini bok!!!!

Jadi, aku harus membongkar lagi proposalku. Kali ini otakku yang sudah banyak kapur ini betul-betul ngadat. Sudahlah urusan pribadi ruwet, urusan pekerjaan lebih amburadul lagi, badan pun sudah harus turun mesin. Alhasil, hampir satu tahun proposalku belum juga kelar. Boro-boro kelar, separo jalan aja belum. Kadang aku heran dengan beberapa kolega. Ada yang dalam waktu setahun (lebih dikit sih) sudah berhasil mendapat gelar Doktor. Ini orangnya yang luar biasa jenius atau penyelenggara program S3nya yang abal-abal? bukan sirik lho, tapi memang S3 tidak identik dengan tingkat kejeniusan pesertanya. Serius. Kan sudah saya bilang tadi, ada faktor keprimitifan sistem di negeri ini yang menghambat, di samping belasan faktor penghambat lain (yang paling atas: biaya). Maka dari itu, kalau ada seorang peserta program S3 di Indonesia berhasil tamat dalam waktu kurang dari dua tahun, hmmm............. (silakan diisi sendiri titik-titiknya).....

Sekarang, apa yang dapat kulakukan? Kuaktifkan tombol "SIRIK MODE" on..... Click!


Fine-esthesia


Esthesia (atau aesthesia) berasal dari bahasa Yunani yang artinya kira-kira "rasa". Istilah esthesia kemudian ditambah awalan an (yang berart "tidak") digunakan untuk salah satu cabang ilmu kedokteran. Arti harafiah an-esthesia berarti hilangnya rasa (sense) atau "mati rasa". Anesthesiology mempelajari seluk beluk anestesia secara luas dan berkembang terus, hingga anestesia sekarang tidak hanya berarti "hilangnya rasa" namun mengacu kepada semua aktivitas/ prosedur yang diperlukan agar seorang pasien dapat menjalani suatu prosedur medis yang "tidak nyaman".

Finestesia merupakan kata blasteran Inggris-Yunani karanganku sendiri, berasal dari "fine" dan "aesthesia". Artinya bisa dikira-kira sendiri. "Rasa yang menyenangkan", atau apalah. Sak karepe.
Ya, blog ini kubuat demi menciptakan "fine feeling".
Terkadang kepala kita serasa penuh atau hati ingin meledak karena suatu hal. Malangnya tidak semua hal dapat kita share dengan orang lain. Mungkin karena terlalu pribadi, atau dapat menyakiti, atau terlalu konyol dan kampungan untuk diketahui orang lain. However, ini betul-betul memenuhi kepala dan hati. Kalau dipendam sendiri bisa gila. Atau sedikit lebih bagus, stroke.
Blog ini adalah laman ventilasi untukku. Aku memang sudah tidak muda lagi, karenanya kadang tengsin juga kalau mau curhat. Kok kayak ABG aja, gitu. Tapi kalau dipendam terus kok jadi seperti bisul yang terus membesar menjadi abses.
Mudah-mudahan dengan blog ini aku dapat menarik nafas dan dapat memperpanjang umurku.